Manuskrip University
Headlines News :

Misteri

National
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Pawai Taaruf meriahkan MTQ ke-IV

Written By Unknown on Minggu, 10 Februari 2013 | 06.27




Sabtu (9/2) kemarin, peserta pawai taaruf dari berbagai kecamatan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memadati Jalan Raya Pondok Cabe hingga panggung kehormatan di Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta yang  merupakan destinasi akhir pawai tersebut. Acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-IV sekota Tangsel.

Setiap penampilan akan dinilai langsung panitia yang berasal dari staf ahli pemerintah kota dan kementerian agama kota Tangsel yang ditunjuk oleh sang walikota, Airin Rachmi Diany yang datang saat pawai bersama Sekretaris Daerah Kota Tangsel Dudung E. Diredja.  Maka dari itu, seluruh kecamatan mengerahkan kemampuan pesertanya di hadapan walikota  Tangsel untuk menjadi peserta terbaik.

Salah satu peserta pawai Kecamatan Ciputat dari Sanggar Seni Bela Diri Laskar Betawi, Endang Saputra, mengharapkan, dengan adanya acara ini, pemerintah daerah bisa melihat potensi pencak silat di Tangsel. Menurutnya, jika tidak dibina sejak usia dini, seni budaya khas Betawi ini akan tertinggal di era globalisasi.

"Pengenalan seni budaya harus ditanamkan sejak usia dini. jangan sampai tertinggal oleh eranya," ungkap Endang yang juga dewan pembina Laskar Betawi.

Untuk menjadi peserta pawai, Endang bersama peserta Laskar Betawi, tidak perlu melakukan persiapan yang matang. Selain untuk mengikuti pawai, mereka sudah jauh-jauh hari melakukan latihan rutin untuk berbagai event tertentu.

Meski pawai taaruf terdengar bising serta menutup jalan, salah satu warga Jalah Kertamukti, Suraji, tidak merasa keberatan dengan adanya pawai taaruf. Sebab, kegiatan itu termasuk kepentingan masyarakat. Menurutnya, dengan adanya pawai tersebut, warga dapat melihat keterampilan dari berbagai kecamatan.

"Saya senang karena baru kali ini MTQ diselenggarakan di Ciputat Timur, sebelumnya tidak pernah. Mudah-mudahan acaranya berjalan dengan lancar dan lebih ramai," kata Suraji.

Di sela-sela acara, hujan deras membasahi peserta pawai taaruf MTQ. Akibatnya, sebagian peserta yang masih jauh dari panggung kehormatan berteduh di pemukiman warga Kelurahan Pisangan dan area kampus UIN Jakarta. Namun, sebagian peserta pawai terus melanjutkan ke garis finis. (Ayub)

Meraih kesuksesan dengan Pedagogi

Written By Unknown on Rabu, 06 Februari 2013 | 07.16


“Tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Mereka adalah para aktivis yang selalu menyiapkan diri pada kondisi yang paling sulit, dengan setumpuk beban yang sangat berat sekalipun.”

Begitulah ungkap Gerry Suryo Sukmono, Ketua Umum  Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI),  ketika menjadi pembicara dalam seminar Briliant Pedagogy Training di Gedung Teater  Lantai 1 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Selasa (5/6).

Pada awal acara, Gerry menjelaskan, kesuksesan merupakan perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai  suatu  tujuan. “Kesuksesan menciptakan nilai tambah untuk diri sendiri dan masyarakat dalam rangka menuju kehidupan bahagia di alam setelah dunia,” ujarnya.

Selanjutnya, ia memaparkan beberapa penyebab kegagalan orang Indonesia, diantaranya karena tidak percaya diri untuk menentukan tujuan, malas untuk melakukan tindakan, serta merasa sombong untuk belajar padahal dirinya bodoh. Tidak seperti orang Eropa, yang selalu bekerja keras untuk meraih kesuksesan. 

Padahal menurutnya, otak orang Indonesia lebih cerdas dibandingkan dengan otak orang Eropa  karena setelah dilakukan perbandingan untuk menghafal tiga kalimat saja, orang Eropa butuh waktu lebih dari dua puluh detik. Sementara itu, orang Indonesia hanya membutuhkan waktu dua puluh detik. Hal ini membuktikan bahwa orang Indonesia tidak akan kalah jika kita mau berusaha.

 Baginya, yang bisa membantu seseorang untuk meraih kesuksesan adalah dirinya sendiri, tidak ada yang dapat menganalisa dan menentukan tujuan hidup seseorang. Selain itu, hubungan terhadap orang lain, tempat tinggal serta fasilitas pun mempengaruhi untuk kesuksesan, seperti Negara lain yang penuh dengan fasilitasnya.

Mengakhiri acara, Gerry yakin, jika orang Indonesia bisa mengelola waktu untuk belajar, maka peluang untuk sukses sangatlah besar.  “kegagalan menuju kesuksesan dapat dihapuskan, karena sesungguhnya otak-otak Indonesia tidak berbeda dengan otak Albert Einsten,” paparnya.

Muhammad Rizky Bayu, salah satu peserta seminar dari Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Ilmu Komunikasi dan Ilmu Dakwah (FIDKOM),    merasa senang dengan diadakannya seminar Pedagogi. Menurutnya, kiat-kiat meraih sukses yang disajikan sesuai dengan kondisinya sebagai mahasiswa.

(Ayub)

AKU ADALAH JIWA


Siapa aku? Entah bagaimana aku menjawab. Jika menjawab namaku Ayub dengan wajah khas Indonesia serta memiliki kulit yang hitam, kiranya aku hanya memberitahu cirri-ciriku saja. Kau bertanya, aku tak akan jawab, percuma kau bertanya karena aku pun mencari tahu siapa diriku.

Sejak aku masih kecil, aku selalu bertanya (bahasa Rahmat; Filsafat) apa itu kursi, apa itu meja, dengan bangga semua makhluk yang berada di lingkunganku menjawab dengan lantang. Telingaku benjut serta bosan di ceramahi tentang meja dan kursi. Begitu pula aku bosan banyaknya kegunaan kursi dan meja.

Tapi, ketika ku pertanyakan siapa diriku, tak ada yang mau menjawab. Ibu dan ayahku selalu berkata aku anak yang baik, selalu mengatakan pula aku anak yang jujur. Tatkala aku mengambil hak orang lain (mencuri) apakah aku bisa dikatakan baik, dan ketika pula aku setiap kali berkata bohong apakah masih pantas aku dikatakan anak yang jujur?

Lantas siapa diriku sebenarnya? Bagiku itu adalah pertanyaan yang tak bisa kujawab. Sulit jika harus menimbang dan menyoal keakuan. Bertingkah laku yang paradoks dengan klaim orang-orang bahwa aku adalah anak yang baik, bahwa aku adalah anak yang jujur.

Agaknya, meski tidak tau siapa aku sebenarnya. Menutup kesalahan dengan bertingkah laku baik dan diam nampaknya itu jalan terbaikku dibanding dengan carmuk dan barkata yang itu adalah sampah.
Rupanya kau masih mau membaca tulisanku ini, baiklah aku akan bercerita lagi demi tulisanku ini. Tidak ada seorang pun yang tau siapa diriku sebenarnya. Bahkan beragam cara aku lakukan usaha untuk mencari tahu siapa diriku.

Ada permintaan dari sang motivator agar mudah untuk mengenali diriku sendiri. banyak hal yang kupersiapkan mulai dari nama yang meski kutulis, umur, hobi, bahkan sampai kejelekanku aku ceritakan dalam lembaran kertas itu. Ratusan kejelekanku yang ditumpahkan kelembaran kertas.

Sebelum ku membakar kertas tertulis ratusan kejelekan yang pernah ku alami itu, timbul pemikiran apakah aku seburuk itu. Masih banyak hal-hal kebaikan yang pernah kulakukan. Sampai orang tuaku menangis melihat kebaikan yang pernah aku lakukan. “tapi jika kau mau mencari tahu kebaikanku mending kita diskusi aja, malu untuk ditulis, hehehe”

Itulah salah satu dari cara yang kupakai untuk mencari siapa aku. Meskipun demikian, cara itu tak dapat merobohkan sebongkah pertanyaan yang telah lama membeku dalam dadaku. Namun, aku selalu berharap untuk dapat mengenali siapa diriku.

Aku di kenal oleh banyak orang dengan sebutan bangkai yang berjalan, Telmi, pemalas dan semua tentang kejelekanku. Anehnya orang yang berkata seperti itu selalu aku pimpin, selalu berada di bawahanku. Aku tak berbicara bohong kanda, Bahkan itu berulang kali.

Lantas siapa diriku. Tuhan tak kupinta lahir kedunia tak kupinta nasib begini, tapi yang kau berikan ku tak mengerti apa maksudmu. Aku mempunyai sejarah yang tak bisa kujawab siapa diriku. “ hehehehe bagus tuh aktingnya”

Mungkin aku bukan orang pilihan kali ya. Aku tahu pencipta bola lampu, aku tahu pencipta mesin uap, dan aku pun banyak tahu yang lainnya. Tetapi mengapa aku tidak tau siapa diriku. Dengan banyak rambut yang menempel di kepalaku, aku pusing menghitungnya.

Mungkin kata yang pantas untuk sebutan diriku adalah kadang-kadang, karena aku kadang-kadang benar, kadang-kadang salah. Banyak hal yang mengkadang-kadang ada dalam jiwaku. Saya pikir ini yang pantas.
Entah dengan cara apalagi aku mencari tahu siapa diriku. Terkadang aku tertawa dengan orang-orang yang sok filsof mencari tahu tentang tuhan. Rasanya tidak asyik jika tidak membahas mengenai tuhan tak berkolor, tuhan yang bisa di foto. Dibenakku selalu berfikir bahwa kau sok filsof sedangkan mencari tahu siapa dirimu pun kau tidak tahu.
Tapi memang begitulah susahnya mencari tahu siapa diriku. Jika ku harus merenungkan hal-hal keakuan bagiku butuh waktu yang lama. Tetapi aku tak bisa membagi waktu itu untuk mengetahui siapa diriku.

Hidupku untuk sekarang adalah di lembaga ke-Institutan. Jika teman-temanku berkata aku adalah pemalas, selalu telat mengumpulkan tugas, tidak suka membaca buku. Rasanya memang pantas aku dikatakan seperti itu.

Sebenarnya aku tidak paham sekali dengan tata cara menulis yang baik. Mungkin itu adalah aku yang sementara. Tapi, tak apalah yang jelas aku jangan sampai di keluarkan dalam lembaga. Memang aku bodoh, memang aku tolol. Tapi aku tak pernah menghiraukan kau berkata seperti itu.

Seperti yang aku bilang tadi, sering kali aku memimpin orang untuk bertindak yang selalu ada hubungan nya dengan permintaan ibu dan bapak. “tersenyumlah dikemudian hari” kata-kata yang selalu saya ingat bersama kedua orang tuaku.

Tapi aku masih tak percaya itu, karena di lembaga justru aku tidak berada diatas melainkan yang terbawah, masih malu untuk mengungkapkan sesuatu hal. Masih sukar untuk menjadi yang teratas, masih banyak yang lebih pintar dan cakap untuk memimpin lembaga.

Aku adalah jiwa mungkin kesimpulan tulisanku dari atas sampai bawah. Maaf kanda jika tulisanku tak pernah meningkat. Tapi suatu saat akan ku gemparkan dunia oleh tulisanku, sekian terima kasih.


(AYUBI)

PAGI HARI DAN SEBUNGKUS ROKOK



Kisah sang Ayub episode 2,,,
Inilah kisah ku untuk hari yang kedua, kembali di bangunkan oleh teman calon mahasiswa STT Legoso yang hendak berangkat melakukan OSPEK. Pukul 06.30 wib seharusnya sudah bangun untuk memberikan contoh kepada adik-adik kelas. Tapi, tak apalah yang penting mereka bangun lebih dulu ketimbang tidak, yang nantinya membuat mereka terlambat untuk melakukan kegiatannya.

Pada waktu itu pun aku langsung bangun tanpa memikirkan apa-apa. Mataku tak sedikitpun untuk menambah tidurku. Aku mengalihkan pandanganku keluar, matahari sudah terbit dari upuk timur. Menandakan bahwa itu sudah seharusnya untuk mandi.

Kiranya aku tak perlu menceritakan kegiatanku didalam kamar mandi, karena itu bukan urusanmu. Memakai baju rapi sekalian untuk berangkat ke kampus, “Ah segar banget hari ini, pagi-pagi udah mandi,” gumamku untuk di tulis di catatan harianku.

Sebelum aku berangkat ke kampus, ku hidupkan laptop untuk menghidupkan musik. Untungnya sebungkus rokok masih ada, sisa semalam waktu makan bareng dengan Yadi & Widodo di warteg depan Aula Insan Cita (AIC). Namun, temanku yang baru bangun tidur menantangku untuk ngerokok bareng. “Ngopi donk kalo berani,” ucap teman ku dengan nada yang sangat lemas.

Akhirnya ku belikan kopi dan empat kerupuk gurih dengan bentuk lingkaran kuning. Belum sempat ku simpan kopi kelantai, teman dari belakang berbondong-bondong ingin merebut kerupuk yang ku pegang. Tak heran jika anak HMB sering rebutan makanan (hahaha), dengan tangan pasrah ku berikan kerupuk itu. Untungnya aku sudah memegang satu kerupuk yang siap untuk masuk kedalam perutku (hehehe).

Rasa eneuk dimulut bekas makan kerupuk, nampaknya akan terasa nikmat merokok. Pagi itu tuhan menganugerahkanku dengan pagi hari dan sebungkus rokok. Waktu itu tak ku sia-siakan pula. Teman ku mengajak diskusi mengenai buku yang ia pinjam, pantang bagiku untuk menolak meski aku harus mencengang mendengarkan teman berbicara dengan baik.

Waktu itu cahaya matahari mulai masuk kedalam kamar dengan jendela yang terbuka. Mungkin waktunya untuk melakukan aktifitas ku. Kalau tidak salah liat pukul 08.45, pergi ke kampus dengan perasaan yang tenang.

Seperti biasa masuk minggu pertama, dosen hanya memberikan kontrak kuliah. Meski sebelumnya terasa malas untuk masuk kelas, bagiku itu pun hal yang penting untuk menunjang hari-hari berikunya, (maksudnya tinggal pemkalah yang maju kali ya,,,).

Mungkin sampai disini saja ceritaku tak akan panjang lebar, karena bagiku esensi yang terbungkus dari di dalam tulisan ini mengenai tuhan yang menganugerahkan ku pagi hari dan sebungkus rokok. 

(ROHIM)

KISAH SANG AYUB DI HARI RABU



To The Point !!!
Terbangun di pagi hari yang di sambut oleh seplastik nasi saat jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Entah ada berapa bungkus nasi saya tidak tahu, “Bangun-bangun sudah siang,” ucap teman di asrama Himpunan Mahasiswa Banten  (HMB), nama yang akrab disapa Bagus.

Mataku masih terasa berat untuk membukanya, begadang yang membuatnya susah untuk di buka. Buku masih berantakkan bekas saya baca tadi malam. Saat terbangun tidak langsung kumur-kumur untuk makan, lantas yang awalnya memerintahkan saya cuci tangan dan berkumur.

Tapi, sasarannya langsung ke lemari untuk membereskan buku yang saya baca tadi malam. Saat itu pula langsung cuci pakaian yang saya kenakan tadi malam, disambung dengan mandi pagi. Sebelumnya menjemur pakaian dulu agar saat menjemur tidak dengan keadaan bersih. Sabun saya ambil dari lemari sambil bernyanyi menuju kamar mandi.

Saat keadaan ku terasa nyaman setelah mandi, akhirnya duduk santai bersama teman di depan TV. Kopi dan rokok menemani hari persantaian kami ber empat. Saat kepulan asap rokok kumainkan tak lama teman perempuan dari lantai atas memanggil-manggil nama saya dengan nada yang keras. “Ayub cepat piket, nanti kakak yang ngepel tapi kamu yang nyapu duluan.”

Terasa berat untuk melakukan kewajiban, karena perkiraanku pasti susah untuk mencari sapu. Namun, di benakku berkata sekalian untuk mengeluarkan kendaraan sekaligus memanaskannya. Akhirnya kaki kulangkahkan ke atas untuk mencari-cari sapu, tapi sapu tak begitu susah kucari, kemudian saya sapu separuh aula, karena teman perempuan yang tadi memanggil langsung turun dan ikut serta membantu.

Setelah selesai mengerjakan tugasku tak lama senior HMB mengatakan bahwa ia ingin meminjam kendaraanku untuk kepentingan HMB. Hatiku berfikir bahwa dia tidak akan Kancolah. Kunci dan STNK kuserahkan dengan santai. Ia pun akhirnya berangkat dengan keadaan motor yang sudah saya periksa awalnya.

Singkat cerita, waktu menunjukkan pukul 14.45. saatnya untuk berangkat kuliah. Semua persiapan telah saya tuntaskan dengan membereskan Laptop setelah saya pakai untuk mengerjakkan separuh tugas senior di LPM. Lemari pun aku periksa dengan detail kebiasaanku sebelum berangkat untuk beraktifitas jauh.

Kelas MD5A dengan no lantai 6.13, itulah kelas ku yang baru dengan teman baru pula. Aku berfikir untuk melanjutkan tugas ku yang tadi pagi sambil menunggu dosen. Tapi, dosen saya Pak Sudirman Tebba berhalangan hadir. Wakil ketua kelas berbicara di depan kelas bahwa dosen hari ini tidak ada.

Akhirnya aku pun langsung pergi ke sekret LPM untuk melanjutkan tugasku yang sampai detik itu belum juga tuntas. Tetapi teman yang ku jumpai di Loby Dakwah meminta untuk mengobrol, kaki ku akhirnya menghentikan perjalanan. Setelah selesai kulanjutkan untuk ke sekret LPM, tak lama akhirnya tiba dengan selamat. (ABDUR)

Sabar kunci sukses



Yo.. Ini sepotong kisah, tentang perjalanan/seorang insan, menapaki jejak kehidupan/Dia lahir ke dunia , dari keluarga/Tidak miskin, kurang kaya, yo tapi sederhana/Ayah berdagang, ibu mengasuh dia di ruma/Sejak kecil belajar susah, hanya bersikap pasrah/Sempat sesaat, mengenal A. S. I. dari ibu./Syukuri rahmat, dapat singkat nikmat ilmu.

Dia takkan gentar, meski guntur menggelegar/Aral melintang, tak mampu untuk buat pudar/Hanya syukuri anugerah, akan nasib dan takdir/Dia takkan menyerah, terus berjuang hingga akhir.

Tapakilah jejak diri, wujudkanlah mimpi, dan yakinlah kan kau raih. Yeiyeah../Lakukanlah dari hati, beri yang terbaik, pasti kan kau raih/Dan kini, dia injak usia labil/Dia tinggalkan satu masa kala ia kecil. Skill! get real, he can make it.. berhasil/Sekian dari banyak mimpi dalam hati kecil.

Kecil sebenarnya.. berarti besar/Ia terlempar dalam panggung hidup yang kasar/Sabar ya kawan, ini tentang edukasi, yang tak terdapat dari sekolah, atau pun skripsi.

Tapakilah jejak diri, wujudkanlah mimpi, dan yakinlah kan kau raih (Berpasrah pada waktu) Woo’o/Lakukanlah dari hati, beri yg terbaik.. pasti kan kau raih (Semua cita dan mimpimu)

Hanya waktu yang dapat menjawab/Mampukah dia merubah, Saat semua, mimpinya tercipt/Saat dimana jalannya, lebar terbuk/Beban berat tertancap dipundak/Semua hanya jadi sejarah, yang terlewat/Dia merdeka, nyata dan bahagia/Dia tertawa di akhir, semua usaha/Dan percaya jalan tak slalu berliku/Dan mengerti, celah untuk berpacu.

Itulah lirik lagu motivasi yang menurutku sangat pas dengan keadaanku saat ini di lembaga. Meski cobaan yang aku hadapi tidak seberat di alami oleh bocah dalam syair lagu ini, Aku pikir tidak ada salahnya jika lagu ini menjadi favoritku.

Sederhana yang aku harapkan dalam kehidupan ini, kalau kanda membaca tulisanku tentang keakuan mungkin kanda akan tahu apa yang aku inginkan. Aku punya mimpi yang sama dengan Soeharto, mempunyai cita-cita yang tinggi. Hanya saja aku tidak bisa menghabiskan waktu luang untuk belajar.

Entah kenapa, padahal ayah dan ibu mengira aku sangat rajin belajar, menjadi anak yang soleh. Kenyataannya aku hanya menjadi seperti ini. menghabiskan uang orang tuaku dengan foya-foya, tidak memikirkan dari mana uang itu berasal.

Aku selalu berharap bisa menjadi bocah yang ada pada syair lagu diatas. Tidak merepotkan kedua orang tua. Karena orang tua sering bilang pula aku harus fokus terhadap belajarku di lembaga, meski harus mengorbankan kuliah.

Mungkin aku hampir setiap hari menghubungi orang tua, tak banyak yang dia tanya bapakku “Bagaimana liputannya?”. Itulah pertanyaan membuatku selalu berfikir untuk mencari alasan agar bapakku tidak kecewa.
Selalu menyesal yang tak ada henti-hentinya ketika menjawab dengan penuh kebohongan. Tetapi, karena sakit yang berkata lain ketika ditanya orang tuaku. Keterpaksaan untuk menjawab hanya di dalam hati bagiku sudah cukup untuk menutup dosaku.

Aku percaya bahwa waktu yang aku rasakan saat ini akan menjadi saksi pondasiku untuk membakar semangatku di lembaga. Tak akan jauh dengan lagu yang aku sukai saat ini. berpasrah pada waktu.

Bagiku esensi yang terbungkus dalam substansi dari lagu ini adalah tentang kesabaran. Menuntut semua makhluk yang berfikir ketika di liputi oleh waktu hanya untuk bersabar. Bersabar menghadang aral, bersabar dalam menuntut ilmu bersabar menuntut mimpi kesuksesan.

Ketika pula pelajaran tentang bersabar menjadi orang yang sukses (berpengetahuan) di tuntut pula untuk mengimbangi dengan ketawadzu’annya. Begitu besar makna yang terkandung dalam syair lagu di atas.

Membutuhkan waktu yang lama untuk meraih kesuksesan bagiku tak jadi soal. Terpenting mau membagi waktunya untuk menghibur diri. Sejauh berapun waktu yang di butuhkan manusia untuk mendapat kesuksesannya pasti akan sukses jua.

Manusia tidak ada yang tidak produktif, semua manusia produkstif. Jikapun manusia tidak produktif, kesalahan kecil saja, mereka tidak memiliki ruang untuk berproduktif. Tak sedikit orang yang tidak mengenyam bangku pendidikan, sehingga banyak yang tidak berproduktif.

Aku tak bisa membayangkan jika aku di kemudian hari tidak sukses (Gusti nu Agung), barangkali aku percuma setiap hari haus untuk mendengarkan lagu motivasiku (namanya juga manusia). Tapi aku takkan bosan mendengarkan lagu motivasi lain, untuk menggugahkan semangat ku di lembaga.

Subhanallah tulisanku sampai saat ini belum juga usai (semangat). Tak apalah yang penting harus pas pada waktunya. Lagu ini sangat mengesankan bagiku, selain tidak membosankan, lagu ini pun di nyanyikan oleh basis Asean.

Pengaruh yang sangat besar pada kepribadianku, tak akan aku biarkan menjadi bias di makan oleh serangga dan hama waktu. Sedikit demi sedikit mengikis semangatku untuk berhenti melakukan kegiatanku di lembaga.

Mungkin hanya disini saja ceritaku tentang lagu ini. Mungkin sudah jelas mengapa aku harus menyukai lagu ini. Narasi yang aku paparkan akan selalu mudah dibaca oleh murid kelas V SD, membuat girang sang professor untuk membaca tulisanku. Sekian terima kasih.

Tulisan disusun oleh : (ABDURROHIM AL AYUBI)

Sampah Pasar Cimanggis, Sebabkan Bau Sengat




Pemberdayaan untuk menjadikan kota yang bersih sebagaimana negara-negara berkembang lain, sepertinya tidak dapat terwujud di tanah air. Risaunya, bahwa sebagian besar disebabkan tidak adanya hubungan timbal balik antara manusia dan alam sekitarnya. Tempat sampah yang kurang ditanggulangi dengan baik dibagian lainnya menimpa beberapa daerah di Indonesia.

Sebut saja, tempat sampah di Cimanggis Tangerang Selatan. Pagi itu, Senin (25/11), sekitar jam 4 pagi sudah banyak petugas kebersihan daerah sekitar sedang mengangkut sampah serta membersihkan yang telah berserakan sejak siang kemarin. Nurul Khidayat merupakan kondektur dari salah satu truk untuk mengumpulkan sampah yang telah dikumpulkan. Namun, meski ia hanya sebagai kondektur, terkadang ia pun menjadi pengemudi truk. Ia tidak merengek meski harus hanya seorang kondektur.

Tempat itu selalu tidak enak dipandang dan bau yang dihasilkan pun begitu menyengat sampai 1 kilo meter. Padahal, pembersihan serta pengawasan itu dilakukan setiap hari. Sebenarnya hati yang paling kecil seorang kondektur ini menyayangkan ketika hal itu harus terjadi, apalagi petugas dalam menjalankan tugasnya hanya 5 jam saja setiap harinya.

Hampir 6 bulan petugas asal jawa ini bekerja sebagai orang yang mengembani pekerjaan yang mulia. Nurul bersama petugas lainnya hanya bermodal pakaian khusus dalam membersihkan serta memiliki rasa tidak jijik terhadap kotoran yang sering mereka temui. Setiap harinya, mereka membersihkan serakan sampah untuk ditimbun pada sebuah truk, setelah itu langsung diangkut ke pusat pembuangan sampah TPA Cipeucang Serpong –seperti pusat pengelolaan sampah di daerah Tangerang—.”Ada 3 amrol untuk mengangkut ke Cipeucang setiap harinya,” ungkap petugas yang baru saja memiliki anak berumur 5 bulan itu.

Sepertinya para petugas yang hanya dikira membersihkan kotoran sisa pasar dan orang yang teledor itu tidak hanya membersihkan sampah dekat lapak saung pasar kecil saja, melainkan di seberangnya yang merupakan tanah milik PT Rumah Toko (Ruko) yang segera dibangun pun turut dibersihkan. Tempat itu tak kalah banyaknya, banyak pula sampah anorganik yang susah untuk melebur menjadi tanah. Hal ini tentu menambah pekerjaan menjadi bertambah bagi petugas kebersihan.

Tempat itu hanya terlihat rapi ketika ada petugasnya saja, setelah itu akan terulang kembali sampai setiap harinya. Bau yang dihasilkan sampah tersebut tidak dapat hilang, sebab cairan yang mengalir dari sampah-sampah  dan bekas pemandian mobil pengangkut ayam  itu sukar untuk asat. Maka, lama-lama akan menimbulkan bau yang busuk. “Apalagi kalau cuaca hujan seperti ini,” ungkap kondenktur itu.

Pada tempat pembuangan sampah tersebut, tentu akan menghasilkan berbagai efek yang tidak diharapkan. Hal itu telah dirasakan oleh Narto seorang penjual Warung Kopi (Warkop) yang juga menjual nasi merasa sedikit terganggu dengan bau yang semerbak itu. Demi kenyamanan bersama, Bapak pemilik warung ini sesekali turut membantu petugas setiap minggu sekali. Ia sering melihat orang-orang yang membuang sampah itu setiap hari.

Dengan niat ibadah terkadang pedagang asal kuningan ini pun harus membereskan serakan yang setiap harinya terkadang mengenai pada sekitar warungnya. Asap yang setiap hari dibakar oleh sebagian petugas dari Ruko, sering mengepul di warungnya. Sehingga rasa kurang nyaman harus dirasakan Narto bersama kelurganya. Walau hanya seorang penunggu Warkop, semangat Narto dalam membantu untuk menjadikan tempat yang bersih telah ia lakukan 2 tahun lamanya.

Saat membersihkan sampah yang terkadang menghampiri rumah Narto, ia tidak hanya sendiri menghadapinya, melainkan ditemani oleh sang istri yang juga kerap menyumbangkan tenaganya untuk merapihkan atau terkadang harus menaikan sampah yang turun dari timbunan.

Warung yang diperkirakan hanya memiliki luas 2 kali 3 meter itu, harus Narto jaga dengan rapi. Sebab bagaimana pun juga, Narto bekerja hanya menjaga Warkop dan nasi itu bersama istrinya. Orang banyak yang berkunjung untuk melepaskan kepenatan dan memanjakan lelahnya untuk beristirahat di warung sederhana itu meski sangat dekat dengan tempat pembuangan sampah.
Untuk pembersihan tanpa pamrih Narto tidak tentu, ia hanya membarsihkan ketika benar-benar telah menggangu warungnya. Sampah yang dihasilkan oleh Ruko memang tidak sebau apa yang telah sampah dekat pasar itu dihamburkan. Tapi, tetap saja rasa tidak enak itu tetap dirasakan Narto. Hanya ia tidak banyak mengeluh ketika menghadapi tantangan hidupnya. Bagaimana pun penjual nasi dekat pembuangan sampah yang masih berdiri hinga saat ini adalah warung Narto. Jadi, Narto mengambil sisi positifnya ketika tidak ada pesaing Warkop

Tidak banyak harapan dari Narto, hanya ingin seluruh lapisan masyarakat selalu  sadar akan kebersihan sekitar demi kenyamanan bersama. Dengan wajah yang lesu, Narto mengatakan tidak bisa berbuat lebih dalam menanggulangi masalah ini. “Ya kalau bisa masyarakat sadarlah, sebab biar tidak begini saja seterusnya,” Ungkap Narto seraya berharap besar. Senin, (26/11).

Hal serupa dinyatakan oleh Yusriani salah seorang pedagang barang domestik saat duduk di bangku tempat ia menunggu,  sering melewati tempat pembuangan barang yang sudah tidak diindahi. Setiap kalinya, Yusriani harus menutup rapat-rapat hidungnya ketika melewati tempat pembuangan sampah dan menghirup aroma tak sedap itu. Menurut ibu kisaran umur 40 tahun ini, sering pula harus melewati jalur lain untuk menghindari tempat sampah yang menyebabkan aroma tidak sedap. Ia harus melalui jarak yang cukup jauh hanya untuk menghindari rasa mualnya ketika menghirup udara itu.

Untungnya ketika melewati tempat itu menggunakan kendaraan roda empat, jadi menurut Yusriani, udara menjadi tidak terlalu menghembuskan kehidungnya. Akuannya, meski telah ditutup dengan rapat, rasa tidak enak itu tetap terasa walaupun hanya sedikit. Yusriani memang tidak terlalu kuat ketika mencium bau-bau menyengat. Apalagi yang dibayangkannya adalah timbunan sampah dengan genangan air serta dipenuhi oleh bulu-bulu ayam.

Pembenaran mengenai pasar yang besar bagi Ciputat, kini tidak terlalu menjadikan sampah lebih porak poranda. Wanita itu membandingkan tempat penjual belian kecil –hanya beberapa saung— malah lebih tidak beraturan dan bahkan seolah dijadikan sebagai pusat pembuangan sampah.  ia sangat berharap terhadap aparat untuk memerhatikan tempat sampah agar tidak terlalu menggangu warga sekitarnya serta masyarakat pun sadar ketika melihat kejadian seperti itu. Ia mengira bahwa untuk menjadikan tempat itu tidak berserakan dan juga tidak menggangu , ia memperkirakan membutuhkan waktu yang sangat lama.

Yusriani menyangka, jika sebelum ia berdagang tidak separah sekarang yang dicampur dengan polusi. Menurutnya, pencemaran asap yang diakibatkan dari kendaraan roda dua ini sudah terlalu berlebihan. Apalagi ketika ditambah udara yang dihasilkan kotoran-kotoran yang terkadang banyak pula disebabkan dari orang yang selewengan  bukan berasal dari Cimanggis.

(ABI)

Dosen Kecewa



Ketika aku pulang dari Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), aku tiba di kosan pukul 22.10 WIB. Selain itu, temanku sudah tertidur nyenyak. Namun dikesendirianku, bayangan wajah Ibu dan Bapakku hadir di benaku.

Aku pun tiba-tiba teringat dengan pesan ibuku sebelum berangkat ke Jakarta. “Nak, kalau begadang jangan terlaru malam, ingat mata pelajaran, kamu harus lebih baik dari pada kami,” ujar ibuku. Jika kata-kata itu hadir di dalam jiwa ini, semangat dan hrapan berdatangan secara tiba-tiba. Walaupun, aku  dalam keadaan galau tingkat malaikat.

Malam itu aku habiskan mengerjakan tugas mata kuliyah kritik sanad dan matan hadis sampai adzan subuh tiba. Di pertengahan adzan, aku pun langsung ke kamar mandi dengan mata terpenggal-penggal. Ketika aku bercermin, mataku merah, rambutku terurai berantakan, serta bayangan wajahku mempunyai beberapa dimensi. 

Setelah melaksanakan kewajiban, aku pun tertidur nyenyak dan bermimpi. Saat suara pedagang terdengar, “Kue, gorengan, siapa yang mau sarapan?” Aku bangun dengan serentak. “Wah, ini pasti sudah siang,” ujar hatiku. 

 Saat aku menoleh ke luar, cahaya matahari sudah menghiasi pagi. Aku pun langsung mandi tergesa-gesa. Tiba aku di kelas, Dosen sudah duduk manis seraya bertanya, “Siapa pemakalah sekarang?” 
Kami pun berbisik-bisik, salah satu temanku menjawab dari belakang, “Bagian kelompok sembilan pak,” ujar temanku. Tidak lama kemudian, para pemakalah datang.  Namun, muka Dosen agak sedikit cemberut dan asam. 

Ketika diskusi berlangsung, salah satu rekan saya mengomentari makalah para pemateri. “Saya tahu persis, makalah ini ngambil  dari blog Pesantren Nusantara,” ujar rekanku sambil memegang makalah.

Mendengar hal itu, muka Dosen tiba-tiba memerah sambil bertanya, ”Benar, ini semuanya ngambil dari blog?” Para pemateri menjawab dengan suara pelan, “Iya pak, tapi cuma sebagaian.”   

“Saya sangat kecewa sekali dengan kejadian hal ini,” ujar Dosen sambil merapihkan barang-barangnya. Dan akhirnya pun ia pergi meninggalkan kami di tengah-tengah perbincangan. 

Salah satu teman dari pemateri, tiba-tiba menghampiri rekanku yang mengkritisi para pemakalah tadi. Sampai akhirnya terjadi perbincangan sengit di antara mereka. (Yadi Mulyadi)

Jangan sia-siakan Waktu


Untuk ceritaku hari ini memang tidak jauh berbeda dengan hari kemarin. Bagiku bercerita mengenai perkuliahan memang membosankan, jika tidak ada perbedaan sama sekali. Hari ini meski ceritaku sama, aku akan menuliskannya dengan kejadian yang sedikit berbeda. Pada hari kemarin pertemuan dengan teman lama rasanya rinduku yang telah lama menggebu kini tidak begitu terasa.

Pada saat jam tujuh pagi, aku tidak langsung mandi untuk berangkat kuliah. Namun, mengumpulkan dengan sedikit meregangkan otot-ototku agar bisa “bertempur dengan pakaian kotor”. Untungnya masih banyak stock sabun cuci. Setelah aku mengangkat pakaian dari rendaman kemarin, pekerjaanku menjadi lebih mudah. Sebab, sabun yang sekitar 12 jam telah meresap pada seluruh pakaian yang telah aku cuci.

Setelah 30 menitan aku mencuci, aku langsung menjemurnya di tempat jemuran baju samping tempat tinggalku. Aku pun menyelesaikan pekerjaan pertamaku, lantas aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sejak 24 jam tidak disentuh oleh air. Segar rasanya ketika aku memakai baju sambil duduk santai. Rasanya tidak ada pekerjaan yang membuat tenagaku harus terkuras banyak selain mencuci pakaian.

Saat pukul 09.00 wib akhirnya aku berangkat menuju Kampus UIN. Aku memiliki rasa yang memang tidak akan pernah tenang. Apalagi nanti siang aku harus bertemu dengan waktu yang itu tidak dapat mengikuti mata kuliah seperti teman yang lainnya. Tapi apa hendak dikata, padi kutanam tumbuh ilalang. Meski sebelumnya aku berusaha agar dapat belajar setiap waktu bersama temanku, tampaknya harus berpisah untuk memilih kegiatan yang mungkin lebih aku pilih.

Pada saat masuk kelas dosen sedikit terlambat untuk masuk kelas. Untuk selasa pagi, aku belajar di Ruang Teater lantai 6. Di ruangan itu, ada tiga kelas yang mengikuti mata kuliah  pagi tadi. Mungkin untuk ketenangan belajar kita tidak mendapatkannya. Hanya saja, dosennya bisa memanajemen semua mahasiswa yang berada di kelas itu. Maka dari itu, kita tetap bisa mendapatkan ilmu-ilmu yang disampaikan oleh dosen.

Saking mata kuliah itu menyenangkan bagiku, meski sudah lewat 20 puluh menit untuk keluar kami tidak aku tidak pernah menggerutu di belakang. Aku pikir itu sama hal nya dengan kebanyakan teman yang lain. Mungkin hanya beberapa orang saja yang menggerutu untuk cepat memberhentikan mata kuliah itu. Karena memang, aku dan teman-teman kelasku sering dimarahi oleh dosen selanjutnya. Menurut dosenku seharunya ketika waktu lebih harusnya mengacungkan tangan untuk minta memberhentikan mata kuliah itu, karena waktu itu kita akan langsung masuk pada kelas selanjutnya.

Kejadian itu sering kita alami, sebab waktu yang dimiliki oleh kelas pagi itu sangat singkat dibandingkan dengan waktu lainnya. Perkiraan hanya satu jam saja. Namun, setelah mendapatkan saran dari dosen itu kita pernah melakukanya, karena tidak ada yang berani satu pun termasuk aku. Tetapi meski begitu, dosen pun telah membiarkannya semenjak dosen itu pernah marah terakhir kalinya satu bulan kebelakang. Mungkin hanya ini saja ceriku hari ini, tapi mudah-mudahan ada manfaat yang terselubung pada tulisan ini.
Terima kasih!!! 

(ABD)

Semangatilah Aku Untuk Menulis





Aku buka kembali medium untuk menulis. Alangkah beruntungnya aku hidup pada waktu sekarang. Tak bisa dibayangkan ketika harus hidup dengan orang-orang pada waktu yang sulit untuk menuangkan ide-idenya agar menjadi sebuah teks. Meski demikian, mereka tidak memusingkan apa yang telah mereka hadapi. Dengan mudah mereka kucurkan idenya, tanpa mereka takuti apa yang akan terjadi bila teks-teks yang mereka tulis di cemooh atau bahkan dibakar sekalipun.

Tapi apa yang terjadi sekarang, teks-teks yang sebelumnya dianggap sebagai pembawa kejalan yang tidak benar malah dijadikan sebuah referensi. Tentu ini jauh berbeda dengan apa yang aku pikirkan sekarang. Saat ini tak ada yang dapat menghalangiku untuk berhenti menulis. Tak tahu kenapa, fantasiku selalu memberikan gambaran bahwa aku tidak dapat menjadi orang-orang yang hebat. Meski cita-citaku hanya setinggi tanah, namun apa salahnya jika aku meloncat agar menjadi pendekar menulis terbaik dalam sejarah.

Aku tidak membicarakan hari ini, melainkan sejak aku berkecimpung pada dunia penulisan. Sekarang aku heran, kenapa mengerjakan tugas tidak dari pagi tadi atau semalamnya. Padahal, menulis pagi dan malam tentu akan ada “ilham” yang memberikan banyak kata-kata yang bagus untuk ditulis. Serta tanpa menunggu apa yang harus aku lakukan agar dapat ditulis hari ini. Memang, aku tak begitu mahir dalam mendeskripsikan kejadian. Namun, harusnya ada benih motivasi untuk menulis.

Tidak dapat ku pungkiri, meski aku sebelumnya sangat benci untuk menulis, Mau tidak mau harus melakukannya. Sebab, sekarang aku sudah berbaur dengan orang-orang yang rajin menulis. Untungnya setelah jum’atan, aku diberikan motivasi untuk dapat menyelesaikan tulisanku hari ini. Sedikit demi sedikit aku terapkan kata-kata agar menjadi sebuah kalimat yang baik. Aku selalu memikirkan waktu tadi pagi, padahal aku tidak kuliah. Seandainya waktu lima jam itu aku pakai untuk berpikir, mungkin kata yang aku terapkan bisa “melahirkan” sebuah artikel yang menarik.

Saat tadi pagi, aku melamun sambil menyender di rak buku terpikirkan untuk menulis. Tapi, ketakutan-ketakutan itu tidak dapat menghentikanku dari lamunan. Apa lagi ketika aku melihat seniorku  sedang menulis tugas dari kemarin dua hari yang lalu sampai saat ini belum juga selesai. Rasa ingin menulis itu benar-benar aku aplikasikan setelah jum’atan.

Rasanya cerah, serasa habis mencuci pakaian yang bertumpuk. Dalam proses penulisan tadi, tidak perlu berpikir lama untuk untuk menyusun sebuah kata, rasanya memang mengalir. Namun, hal ini tidak sesering mungkin aku rasakan. Kemarin saja, aku menulisnya sambil presentasi. Sebetulnya itu tidak enak ketika harus menulisnya sambil menjelaskan pembahasan pada makalah. Rasanya pegal ketika harus menahan leher agar tidak terlihat oleh dosen bahwa aku sedang mengerjakan tugas lain.

Rasa semngat ini harus aku bakar terlebih dahulu agar dapat hidup. Aku sangat berharap rasa semangat ini senantiasa muncul seperti halnya yang dimiliki oleh orang-orang sukses sebelumnya. Semangat mereka muncul tanpa stimulus, melainkan senantiasa membara seperti api matahari yang ada hingga saat ini. Selesai!!!


(ABR)

Posisiku Pada Golongan Empirik?


Orang yang bingung akan menghasilkan konsekuensi logis, bahwasannya keputusan yang diambil pun biasanya akan membuat jadi bias. Hal ini sering terjadi ketika harus memilih bagian mana yang lebih penting atau yang akan menghasilkan lebih baik, ketimbang hanya baik saja. Kejadian ini telah dirasakan saat pagi sampai sore tadi. Tentu membuatku setres (berkeringat yang bukan waktunya) sampai bercucuran hingga membasahi baju.

Sekitar jam 8 pagi, ada dua kejadian, yakni sms memerintahkan untuk berangkat ke kampus dan mengangani rendaman pakaian luntur. Hal ini membuat sulit memilih mana yang dianggap lebih penting. Mengenai kampus, teman sekelas meminta untuk cepat meneruskan tugas makalah. Perasaan ini memang tak aku biarkan ketika harus dibenturkan dengan rendaman pakaian yang luntur.

Namun, aku tidak pernah refleks untuk memilih salah satu yang lebih baik. Sulit memang ketika harus merefleksikan ingatan mengenai kebaikan. Tanpa berpikir panjang aku menghiraukan temanku yang mengajak barangkat untuk membuat makalah tadi, dengan membalas sms bahwa aku tidak segera jumpa pagi-pagi. Rendaman pun langsung aku pisahkan antara yang luntur dengan yang tidak. Memang, pakaian luntur hanya celana saja, maka dari itu aku pisahkan di kursi.

Meski hanya satu celana jeans, luntur nya minta ampun membuat pakaian yang lain menjadi biru. Lumayan memakan tenaga yang lebih untuk menyikat pakaian lain dibandingkan mencuci biasanya. Apalagi yang berwarna putih, entah warna merah dihasilkan dari pakaian yang mana. Membuat lunturan itu tidak hanya berwarna biru, melainkan ada yang berwarna merah.

Kesulitan sering terjadi ketika sama-sama memiliki posisi yang penting. Pertanyaan ini tentunya tidak akan ku tanyakan kepada seorang psikolog yang hebat. Aku akan mudah mengambil keputusan ketika hal itu berlawanan. Antara yang baik dan yang buruk, yang hitam dan putih. Tapi, mungkin akan lebih sulit ketika harus memilih antara biru dan hijau.

Itulah mungkin yang disebut percaya diri. Jika orang ‘tinggi’ di asramaku mengatakan, aku tidak bisa berdamai dengan diri sendiri. namun, orang yang sudah agak jauh jaraknya denganku di oraganisasi mengatakan, aku tidak memiliki hasrat. Kedua pernyataan ini tentu selalu membuatku berpikir untuk menimbang mana yang lebih sesuai dengan keadaanku sekarang. Esensi yang terbungkus pada substansi itu tidak jauh berbeda. Dapat berdamai dengan diri sendiri tentu akan menimbulkan hasrat yang tinggi untuk melakukan sesuatu.

Jika aku timbang-timbang mengenai pakaian luntur yang direndam dengan tugas makalah untuk presentasi, mungkin aku mampu menentangnya meski perlu sedikit renungan. Namun, ketika harus dihadapkan dengan problem etika dan moral, ini yang selalu membuatku stres tak berkesudahan. Jika aku melihat realita orang sekitar, hanya sedikit orang yang menganggap hal yang kuanggap sulit ini hanya biasa saja. Namun, tidak bagiku. Maka dari itu, aku mengerti mengenai ketegangan yang dihadapi oleh orang empirik.

Tak ku pungkiri belajar dari pengalaman memang menjadikan kegiatan lebih mudah untuk dijalankan. Tampaknya aku harus mengubah motoku menjadi “Mencari pengalaman dan belajar dari pengalaman”. Semoga apa yang aku rubah mengenai relativitas ini menjadi pengalaman yang berarti. Bukan berarti aku harus melebur dan membuka lembar baru, melainkan ingin merefleksikan dari orang-orang yang bijak di atas . Terima kasih

(RHM)

Fikiran Tenang Jadikan Istirahat Nyaman


Oleh: Abdurrohim Al Ayubi

Setelah beberapa kali aku menulis cerita harianku, memang selalu membosankan bagi pembaca. Meski analisis “liar” ini tidak bisa lansung dapat diterima oleh semua orang, tapi hal ini telah aku rasakan sendiri selaku penulis. Namun, aku percaya pada kiai di pesantrenku. Ia telah mengutip dari pewaris nabi sebelumnya bahwa “Ahli ilmu tidak akan bosan meski harus ‘mendengar’ seribu kali”. Kalimat itu yang membuat hasrat ini untuk menulis cerita harianku walau harus seribu kali. Lagi pula, faedah menulis sangat beragam.

  Kali ini, sepertinya memulai cerita semalam sangat menyenangkan dan memiliki “akar” historis yang jelas. Sebelumnya fikirku, senior akan meningkatkan tugas pada bidang tulisan. Ternyata potret semalam telah memberikan penjelasan mengenai masih banyaknya kata yang tidak cocok untuk diterapkan pada sebuah kalimat. Perkiraannya aku tidak boleh melewati tugas ini jika masih banyak terjadi kesalahan. Akhirnya, aku dan temanku yang sama-sama mendapat tugas menerima pernyataan dari senior tetap harus menulis cerita harianku.

Setiap mengedit tulisan, banyak ilmu-ilmu yang menambah wawasanku dalam penulisan kalimat. Walau pun posisiku tidak sama dengan teman lain  yang cakap menulis berita, aku pun tidak mau kalah sebagai calon anggota Institut yang merasa dapat banyak ilmu dari senior. Dari tugas-tugas ini aku merasa menulis sudah menjadi hal biasa. Meski tidak dapat dipungkiri rasa malas itu sering datang ketika aku harus menulis. Untungnya, aku berusaha menanam rasa senang dan tidak membebankan agar tidak malas untuk menulis.

Bagiku jika kita terlalu banyak fikiran, akan sangat mengganggu waktu istirahat. Rasa itu aku rasakan setiap malam. Sampai mengira tidak pernah merasakan tidur nyenyak tiap malamnya. Merasakan tidur nyenyak selalu terjadi ketika aku berada di ruang sekretariat Institut. Entah apa yang aku fikirkan ketika tidur di tempat lain, padahal aku berusaha untuk bisa tidur dengan cepat diharapkan tidur dengan waktu yang panjang.

Semalam, aku tidak ada niat untuk tidur di sekretariat. Niat awalku ketika berbaring hanya untuk meregangkan otot yang tegang saat menyimak penjelasan senior. saat itu aku sangat pulas, sampai merasa telah 6 jam aku tertidur. Sebetulnya seperti itulah jika aku tidak memikirkan apa pun. Ragaku yang tegang tampaknya harus lemas ketika pikiranku tenang. Jika yang aku dengar dari cerita teman-teman yang lain, kebanyakan mereka tertidur jika datang pada waktu yang renggang.

Meskipun semalam aku tidur sejenak, bangunnya spontan aku tersenyum. Jarang-jarang tersenyum ketika bangun tidur. Setelah bangun tidur aku merasa harus pulang dan memanjakan tubuhku untuk istirahat, fikiranku aku akan tidur pulas malam ini. Di sepanjang jalan aku terhuyung-huyung di tambah aku menyengaja ketika di tempat yang sepi. Rasanya memang enak ketika badan lemas tanpa ada beban fikiran.

Setelah tiba di tempat tinggal, Aku justru tidak mengantuk. Perkiraanku bangun siang membuat aku memaksakan untuk tidur. Akhirnya aku ambil selimut untuk menutupi sekujur tubuh dari serangan nyamuk dan dari dinginnya malam. Tidur pun aku lanjutkan agar tenaga bertambah banyak serta menjadikan kekuatan untuk esok hari. Sekian!!!

(Robi)

Variasi Pola Pengasuhan Orang Tua Terhadap Anak




Lingkungan modern mengubah pola pengasuhan orang tua terhadap anak, perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan pengasuhan zaman dulu yang pola pengasuhannya  alamiah serta banyak melibatkan persentuhan kasih sayang terhadap anak.

Erna Multahada Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memaparkan, tantangan di zaman modern lebih berfariasi ketimbang zaman dulu. Mereka lebih membiarkan anak tidak boleh bermain keluar, hanya membiarkan anak asik di depan televisi, ternyata didalam pun kurang pengawasan.

Pola pengasuhan sebenarnya sama saja, tergantung bagaimana orang tua belajar terhadap zaman yang sudah berubah ini. Orang tua harus mempelajari dengan kritis terhadap permasalahan yang dihadapi oleh anak, sehingga pola pengasuhannya juga harus tetap memegang prinsip-prinsip yang sama.”Misalnya pengasuhan tegas tetapi peduli terhadap anak. Selain tegas dan peduli, orang tua juga memberikan suatu aturan agar anak dapat berkaca pada orang tua, Selain itu anak juga bisa terkontrol dari sikap orang tua,” jelasnya.

Menurut Erna Pola pengasuhan orang tua terhadap anak harus di penuhi, Karena masa anak adalah masa oral yang harus di penuhi, kalau pun orang tua bekerja seharusnya ibu sudah menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh si anak , karena bagi orang tua, itu bukan suatu proses yang mudah untuk menjadi orang tua. Begitu juga menjadi kepribadian yang bisa di ikuti oleh anak, itu membutuhkan suatu proses dan tidak menjadi dengan sendirinya.

 “Kalau tidak demikian fase oralnya tidak terpenuhi, akibatnya akan merokok, main game, dan sebagainya. Namun, sebenarnya tidak masalah kalau orang tua itu mempunyai aturan yang baik,” tuturnya.

Ia pun menambahkan, Stimulasi anak dizaman sekarang lebih berfariasi, tantangan yang lebih besar dikhawatirkan anak ketika memilki teman baru dengan bermain media elektronik, yang pada akhirnya ada bentuk pengasuhan yang baru. Walaupun demikian anak harus diberikan suatu ruang diskusi, ruang untuk bisa berkomunikasi. jika orang tua sudah aman diluar, didalam pun sudah cukup baik.Jika orang tua tidak kritis terhadap stimulasi lingkungan yang lebih bervariatif, anak akan mendapatkan tontonan yang dianggap bagus. Hanya saja disitu ada peran antagonis yang tidak baik untuk di pertontonkan terhadap anak.

Menurut nya ada 4 pola pengasuhan orang tua terhadap anak, diantaranya, pertama, thoritative adalah tegas tetapi peduli. Mejelaskan alasan terhadap perintah atau peraturan, memberikan anak ruangan untuk mengungkapkan pendapat, Sehingga aturan-aturan yang di tetapkan oleh orang tua itu belajar atau pengendalian juga dari orang tua.

Kedua, Authritarian adalah menekankan konformitas, harus sama dengan apa yang orang tua inginkan, dan tidak terbuka dan tidak menganjurkan anak untuk memberikan pendapat. Efeknya pun akan berbeda dengan perkembangan anak dan prestasi yang diraih di sekolah.

 Ketiga, Permissive adalah orang tua terlalu sayang kepada anak sehingga memberikan kebebasan penuh kepada anak, tetapi masih memiliki sedikit harapan dan tututan kepada anak. dengan terlalu memanjakan anak efeknya pun akan berbeda pula terhadap anak.

Keempat, Uninvolved adalah benar-benar lepas tangan sedikit ketertarikan pada kehidupan anak. Dan sedikit harapan, efeknya pun berbeda juga

Authoritative yang baik, itu tidak boleh berubah, Walapun zaman berubah tetapi orang tua harus kritis, karena stimulasinya luar biasa. ”Pola ini lah yang paling baik di antara yang disebutkan tadi,” jelasnya.

(ARB)

Menguak Kembali Perjuangan Sjafruddin Prawiranegara


Serang- Banten, INSTITUT -  Awal gerakan pemikiran dan kontribusi Sjafruddin Prawiranegara terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah usai dilaksanakan. Mandat sebagai ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini, diberikan Muhammad Hatta kepada Sjafruddin Prawinagera untuk menjaga stabilitas negara dan menjalankan roda pemerintahan sementara.

Begitulah perbincangan dalam Seminar Nasional yang  digagas oleh Himpunan Mahasiswa Banten (HMB)  Jakarta, Bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) bertempat di Gedung Radar Banten, Minggu (8/7). Acara yang bertema “In Memoriam to Sjafruddin Prawiranegara” menghadirkan anak kandung Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Chalid Prawiranegara,  Boni Triana (S\ejarawan Muda/Pemimpin Redaksi Historia Online), Najmuddin Busro (tokoh Banten), dan Mufti Ali, delegasi dari Kelembagaan Bantenologi yang sekaligus bertindak sebagai pembicara pada seminar tersebut.

Pada awal perbincangan itu,  Lili Romli, Ketua Peneliti Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) memoderati acara tersebut. Menurutnya, Sjafruddin Prawiranegara merupakan pejuang yang sangat luar biasa, bukan saja identitas dan pemikirannya, tapi juga etika dan prilakunya. ia menyayangkan di tanah kelahirannya sosok sjafruddin kurang begitu di kenal. Namun, di tingkat nasional dan internasional namanya begitu harum dikenang.

Selain itu, Najmuddin salah satu tokoh banten  memaparkan, ketika Yogyakarta berada di tangan pemerintah kolonial belanda, pada tanggal 22 Desember 1948 Sjafruddin membentuk  PDRI. Kala itu Belanda mengumumkan pada dunia bahwa Indonesia sudah tidak ada, sedangkan pimpinan PDRI Sjafruddin menyatakan bahwa Indonesia masih ada, terlihat dari keberadaan PDRI yang masih tetap kokoh.

Dunia pun dikagetkan dengan pernyataan sjafruddin tersebut, namun hal itu terbilang percuma. karena, PBB sudah tidak mengakui keberadaan Indonesia sebagai sebuah Negara. Sebab, Indonesia dianggap sudah tidak memenuhi komponen sebagai sebuah Negara, seperti ketiadaan pemerintah, rakyat, dan wilayah. “Alhasil gelar Indonesia sebagai Negara pun lepas,” katanya.

Hal berbeda di ungkapkan Boni Triana, menurutnya jika Sjafruddin Prawiranegara dilihat dari aspek historis. Ia mengatakan, Sjafruddin hanya sebatas menjabat sebagai ketua PDRI, bukan sebagai presiden. “Karena secara prosedur hukum dan Negara, Sjafruddin tidak memenuhi,” ucapnya.

Ia menambahkan, aspek historis sangat perlu diperhatikan, selain sebagai sebuah fakta. Aspek  historis juga terkadang membuat kita (rakyat indonesia) bingung untuk  membuktikan kebenaran tersebut. “Dulu itu, banyak aspek historis yang bersifat politis. Jadi, kita harus pintar dalam memilah dan memilihnya.” ungkap Boni.

Syafrita Nurkhalika, salah satu peserta seminar dari Universitas Sultan Agung Tirtyasa (Untirta), merasa senang dan bangga dengan adanya seminar tentang sosok Sjafruddin Prawiranegara, menurutnya materi yang disajikan sesuai dengan mata kuliah Manajemen Perbankkan.

ia berharap, adanya seminar lanjutan dengan tema yang lebih bernuansa ekonomi islam, karena hal itu sangat membantu. “Mudah-mudahan lewat seminar ini, akan mampu mencetak ekonom handal yang kelak akan mampu memperbaiki permasalahan ekonomi global,” ucapnya. (Ayub)

Mahasiswa Keluhkan Gedung FISIP Belum Difungsikan



UIN Jakarta, INSTITUT - Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengeluhkan gedung FISIP yang hingga saat ini belum bisa difungsikan. Hal itu diakibatkan pembangunan gedung FISIP tak kunjung usai hingga saat ini.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) FISIP, Ardhy Dinata Sitepu mengatakan, menurut perkataan salah satu dosennya, pihak Rektorat pernah menjanjikan gedung FISIP dapat difungsikan pada bulan Desember tahun 2011.

“Tapi itu hanya isu, tidak ada pemberitaan resmi, Kemarin saya sempat ngobrol dengan Pak Abrori Pudek III, ia mengatakan gedung FISIP dapat ditempati pada September tahun ini. Itu pun kalau tidak da kendala,” jelasnya, Rabu (4/7).

Ardhy memaklumi kondisi gedung FISIP yang hingga saat ini belum dapat ditempati. Namun ia mengatakan hal itu sangat mengganggu aktifitas mahasiswa FISIP. “Apalagi kita kan harus memakai aula untuk kegiatan propesa mahasiswa baru,” katanya.

Hal senada diungkapkan salah satu mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP, Muhammad Rafsanjani, ia mengatakan, pemfungsian gedung FISIP telah disosisalisaikan sewaktu ia menjalani kegiatan Propesa. Tapi hingga saat ini gedung FISIP belum dapat ditempati.

 “Saya dan teman-teman belajar di mana-mana, di gedung Fakultas Psikologi lantai 4 selama satu semester, tapi setelah itu kami diusir. Pernah juga saya kuliah di kampus satu, di bekas gedung Farmasi selama 3 bulan,” jelasnya, Jumat (6/7).

Ia menambahkan, fasilitas-fasilitas yang harusnya dapat dinikmati oleh para mahasiswa akhirnya tidak dapat dinikmati karena gedung yang masih belum dapat ditempati. “Jadi kulah kita tidak bisa semaksimal mungkin,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut,Pembantu Rektor (Purek) Bidang Adminidtrasi Umum,  Amsal Bachtiar, menjelaskan, sebagian gedung FISIP sudah bisa dipakai untuk kegiatan belajar mahasiswa. tapi menurutnya, para mahasiswa tidak dapat belajar secara kondusif karena masih ada para karyawan bangunan yang masih menyelesaikan pembangunan.

“Untuk sementara mahasiswa FISIP bertempat di gedung Psikologi terlebih dahulu. Karena ini baru pembangunan tahap ketiga yang masih dalam proses pengerjaan,” jelasnya, Senin (9/7).

Amsal menambahkan, pembangunan gedung FISIP diperkirakan akan selesai pada bulan Desember tahun ini. “Mahasiswa harus sabar, karena anggarannya per tahun,” tambahnya.

Ardhy berharap pihak rektorat benar-benar komitmen menyelesaikan pembangunan  di September, karena September mahasiswa baru masuk dan BEM Fisip sendiri punya agenda-agenda besar untuk mengundang teman-teman dari universitas lain.

“Kita butuh ruangan dan gedung yang memadai untuk menyambut dan mengisi kegiatannya,” paparnya. (Ayub)

Pasar Kaget Kecewakan Sivitas Akademika FU




UIN JAKARTA – INSTITUT, Keberadaan pasar kaget di Basement Fakultas Ushuluddin (FU) sejak 17-21 September kemarin sangat mengganggu. Basement FU yang seharusnya digunakan untuk belajar serta melepas kepenatan kuliah mahasiswa, malah dijadikan sebagai pasar. Akibatnya, sivitas akademika FU merasa kecewa.

Kekecewaan itu dirasakan Mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat, Danny Ramdhany yang menyampaikan dengan terang-terangan bahwa pasar kaget melanggar aturan. Ia menyayangkan fakultas yang dianggap sebagai jantung UIN dijadikan pasar.

“Kegiatan pasar ini sebetulnya paradoks karena tidak sesuai dengan Visi FU, yang semestinya menciptakan para intelektual. Seharusnya kegiatan seperti ini dilakukan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis,” tegasnya, Rabu (19/09).

Tak hanya Danny, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ) Tafsir Hadist, Masfufah, turut merasa kecewa, dirinya tidak ada niat untuk mengadakan pasar tersebut. Awalnya, ia bekerja sama dengan  Maslam Danuri selaku penanggung jawab pasar (Mahasiswa Tafsir Hadist) untuk mengadakan bazar buku diharapkan dapat menghasilkan dana Kegiatan Ta’aruf jurusannya, namun perjanjiannya tidak terpenuhi.

Sejak dirinya mendapat teguran keras dari pihak dekanat, Masfufah menyampaikan kepada Danuri untuk mengganti pasar domestik dengan bazar buku. Namun menurutnya, Danuri tidak mau mengabulkannya. Padahal kesepakatan awal bukan pasar domestik melainkan bazar buku.

“Harapan saya sebenarnya hanya bazar buku, tapi tidak tahu kenapa malah pasar domestik yang ada. Akhirnya karena mereka sudah terlanjur kontrak, ya sudah,” keluhnya, Senin (24/09).

Menanggapi beberapa mahasiswa yang kecewa, Danuri mengatakan, obrolannya dengan Masfufah tidak hanya bazar buku saja, melainkan ada pula pasar domestik. Ia mengakui ada miss komunikasi dengan Tion seorang penjual buku di Student Center (SC).

“Saya kira Tion mengadakan bazar buku di SC hanya satu minggu, ternyata bazar buku tersebut tidak seminggu tapi dua minggu. Berhubung saya miss komunikasi dengan Tion, jadi bazar buku itu tidak terselenggara,” ungkapnya, Selasa, (25/09).

Menurutnya, pasar domestik yang ada di Basement FU sama sekali tidak mengganggu kegiatan mahasiswa. Terkait pasar, di luar FU pun pernah melakukan hal yang sama.

Mengenai pasar yang dianggap menggangu kegiatan mahasiswa, Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Suryadinata, mengatakan kegiatan pasar tersebut tidak bisa dilanjutkan lagi. Pasalnya, kegiatan itu menyalahi peraturan, mereka harus diberikan pengawasan.

Baginya, keberadaan pasar tersebut tidak memberikan manfaat sedikit pun terhadap pihak dekanat serta sebagian besar mahasiswa FU. Ia menambahkan tempat yang dipakai itu memang digunakan sebagai tempat kegiatan mahasiswa dalam memperkaya wawasan keilmuan.

“Di suratnya itu tidak ada Pasar Domestik, karena tidak ada kaitannya dengan mahasiswa. Kita tidak mengizinkan kalau kegiatan ini di luar akademik, jadi itu sangat menyalahi aturan,” tandasnya, Jum’at (21/09). (ABDURROHIM AL AYUBI)

Akhlak Negatif Manusia Hancurkan Struktur Makrokosmos





UIN Jakarta, INSTITUT - Dalam memperingati ulang tahun ke-22 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIDKOM mengadakan bedah buku berjudul  Peradaban Dari Langit karya Prabowo Respatio Caturroso. Acara yang di moderatori oleh Sadam Husen Falahuddin diadakan di Gedung Teater lantai 2 FIDKOM, Senin (4/6) lalu.


Dalam acara itu, Prabowo Respatio Caturroso selaku penulis menjelaskan, Pancasila yang dibuat oleh para pendiri negeri mengandung unsur keilahian dengan segala sifat ketuhanan yang dimiliki-Nya.

 “Seandainya kita mampu menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa (YME) di atas segalanya, maka segala pemasalahan akan dapat  terselesaikan. Betapa indahnya kehidupan umat manusia di bumi ini,” ucapnya.

Prabowo juga menyebutkan, kalau kita perhatikan secara seksama ciptaan-Nya, maka akan terlihat adanya struktur planet yang sangat menakjubkan. Matahari beputar pada porosnya, bumi bergerak mengitari matahari dan peredaran planet-planet lain yang sesuai dengan garis edarnya.

“Diciptakan struktur dan sistem tersebut, Maka terbentuklah budaya Makrokosmos, berupa waktu, yaitu detik, menit, jam, dan hari yang akan mempengaruhi tingkah laku Mikrokosmos baik tumbuh-tumbuhan, binatang dan juga tingkah laku manusia yang kemudian berwujud sebagai budaya,” tambahnya.

Sementara itu, Prabowo membayangkan bagaimana dampak negatif akhlak atau moral manusia (mikrokosmos) yang menyebabkan kerusakan alam semesta ini, seperti banjir, longsor, gempa, dan sebagainya. Menurutnya, banyak kelompok generasi muda menuntut diadakan transformasi sentris secara mendasar, tanpa menyadari bahwa transformasi sentris tidak mungkin terlaksana tanpa didahului reformasi total.

“Maksudnya banyak transformer yang ingin mengubah dunia, tetapi tidak memahami struktur dan sistem yang benar, sehingga tidak akan berhasil atau tidak berubah. Reformasi total bisa alami, tetapi bisa juga direkayasa dengan menciptakan klimaks dan mempersiapkan anti-klimaksnya,” kata Prabowo yang juga Staf Ahli Bidang Inventaris Departemen Pertanian dan Perhutanan.

Ia membenarkan, apabila akhlak manusia tersebut baik atau terpuji, serta membentuk struktur, sistem, budaya madani yang diajarkan Rasulullah Saw, maka dampak lingkungan akan terkendali dan mampu mencegah rusaknya tatanan alam semesta tersebut. (Abdurrohim Al Ayubi)

OPAK dan Kreativitas BEM



UIN Jakarta, INSTITUT- Pelaksanaan kegiatan Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) periode 2012/2013 di beberapa fakultas menampilkan kemeriahan, pembaharuan, dan keunikan dari tahun sebelumnya. Hal itu karena, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dilibatkan untuk mengelola dan mengembangkan jalannya acara OPAK sehingga memunculkan acara yang menarik.

Seperti di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) yang mengadakan acara OPAK Talent. Opak Talent merupakan salah satu acara OPAK yang menampilkan seni dan kebudayaan Indonesia.

Sekretaris OPAK FITK, Monica Harfianti menjelaskan, Mahasiswa baru (Maba) akan menampilkan kebudayaan dari berbagai suku yang ada di Indonesia.  Misalnya suku Dayak, Sunda, dan Jawa.  “Terserah seni apa saja yang mau mereka tampilin, mau dari pakaian, tarian, lagu dan lain-lain,” ucapnya (28/8).

Ia juga menjelaskan, mahasiswa baru akan dibentuk menjadi 40 kelompok dan setiap kelompok akan tampil selama lima menit. Sedangkan nama masing-masing kelompok diambil berdasarkan nama suku yang ada di Indonesia agar mempermudah peserta mengenali kelompoknya.

Pada hari terakhir akan dipilih kelompok pemenang dari penampilan dengan kriteria terbaik, terunik, dan  terheboh,” ucap mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) tersebut.

Latar belakang diadakan OPAK Talent ini, menurutnya, untuk memperkenalkan macam-macam kebudayaan Indonesia agar mahasiswa lebih mengetahui suku-suku yang ada di Indonesia.

Selain FITK, Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu kesehatan (FKIK) pun tak mau kalah, mereka  juga memperbaharui acara OPAKnya. Ketua panitia OPAK, Yusna Fadliyyah Aprianti mengatakan, maba FKIK diwajibkan untuk membuat esai. Maba akan dikenakan sanksi jika tidak mengerjakan esai sedangkan bagi yang mengerjakanya akan mendapatkan hadiah.

Uniknya, ada panitia yang masuk kedalam setiap kelompok dengan menyamar sebagai maba untuk memata-matai. Selain itu, penyamar juga mempengaruhi temannya agar tidak mengerjakan esai. “Kan nanti ada yang nggak buat esai, jadi dia dikasih hukuman,” katanya (28/8).

Yusna juga menjelaskan, hukuman yang diberikan sesuai dengan kesalahan mereka. Di akhir acara, Komisi Disiplin (Komdis) akan memberi penyadaran terkait dengan kesalahan yang telah diperbuat peserta.

Di sisi lain, panitia OPAK Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Hasan Hilman mengatakan, FEB juga mempunyai acara unik seperti pembacaan surat cinta dan stand up comedy. “Acara tersebut agar peserta tidak jenuh dengan acara-acara yang disuguhkan oleh panitia OPAK,” ujarnya ketika ditemui di depan musala. (Ayub / Imam). 

Pelantikan Pengurus HMB, Tonton “The Act of Killing”



Pada acara pelantikan kepengurusan baru Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta mengadakan pemutaran film “The Act of Killing” di Aula Serbaguna HMB Jakarta, Sabtu (5/1). Film ini merupakan kumpulan fakta-fakta yang diaktori para pembunuh Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh Pemuda Pancasila (PP) tahun 1965. Namun, masih kontroversi hingga saat ini.

Sebagai film yang sulit untuk ditonton, acara ini dihadiri oleh Kresna Astra Atmaja selaku pembimbing pemutaran film. Menurutnya film ini tidak bisa ditonton secara pribadi tetapi harus berbarengan. Sebab, efek setelah menonton bermacam-macam. Maka dari itu Kresna hadir untuk menjelaskan setelah menonton agar faham.

Acara ini dihadiri oleh Anggota HMB serta berbagai organisasi aktifis mahasiswa. Seperti Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMI), Linkar Studi dan Aksi Demokrasi (LS-ADI), sebagian Unit Kegiatan Mahasiswa UIN Jakarta serta beberapa komunitas pecinta film.

Usai pemutaran film, penonton tidak pulang begitu saja, tapi dilanjutkan dengan diskusi terbuka. Diskusi dipandu oleh Kresna yang juga pernah diminta membantu proses pembuatan “The Act of Killing”. Kresna menjelaskan, film ini merupakan tesis yang dibuat Joshua warga Amerika untuk menempuh jenjang doktoral. Menurutnya, Joshua tidak bertujuan untuk membuat film sejarah melainkan ingin membongkar apa yang ada pada ide “jagal”.

Kresna menambahkan, Joshua tidak kesulitan saat membuat film versi “jagal” dibanding membuat versi korban. Sebab,  saat Anwar diminta untuk memainkan peran di film ini, Anwar tidak merasa keberatan. Menurutnya, Anwar merasa berada di pihak yang benar saat joshua menjadikannya aktor di film “The Act of Killing”.

“Ini bukan film sejarah. Entah itu terjadi atau tidak, ini peristiwa ’65 yang tetap menjadi potret Indonesia 2012,  ini jelas semua adegan realis dan semua adegan-adegan itu merupakan idenya Anwar bersama kawannya,” ungkap Kresna.

Meski Kresna menjelaskan dengan detail, salah satu penonton anggota Movie Lovers, Tri Sutresno, mengungkapkan dirinya tidak menelan mentah-mentah isi dari film ini. Sebab di dalam film ini ada hidden mistery yang ingin disampaikan, terlepas apa kepentingannya atau mau diarahkan kemana opini ini.

“Film ini tidak layak jika disebarluaskan. Sebab, film ini akan menjadi edukasi bagi siapapun, entah itu positif atau sebaliknya. Ini seolah ada penggiringan opini. Anwar pun tidak menyangka bahwa filmnya akan seperti ini,” tandas Tresno.

Hal senada diungkapkan oleh ketua HMB, Usep Mujani mengungkapkan, film ini merupakan antitesa dari maenstrim pemerintah. Menurutnya, dulu PKI yang lebih kejam. Namun, setelah menonton film ini dirinya merasa diarahkan pada satu opini bahwa pemberantasan PKI lah yang justru lebih kejam.

“Penerimaan makna oleh saya pada waktu melihat film ini seolah-olah PP dan PKI ini hanya simulasi saja.  Jadi kejadian ‘65 itu bukan kejadian asli. Film ini justru membawa pada wajah simulakrum di mana tidak ada realitas yang asli tapi semuanya hiper-realitas,” ucap Usep.

Usep menambahkan, dirinya merasa tertarik setelah melihat film ini. Sebab, film ini tidak memberikan kesimpulan apapun. Akibatnya film ini mengajak berfikir semua penonton. (AYUB)

Café Bento Cita Rasa Khas Jepang



Anda bingung memilih tempat makanan asing yang cocok untuk  melepas lelah di siang dan sore hari? Asmi memberikan solusinya dalam masalah ini. Ia membuka Café Bento di Café Cangkir lantai 2, dengan produk makanan khas Jepang.

Pengelola Café Bento, Muhammad Asmi Kammuri menuturkan, kafe ini merupakan pemekaran dari Café Javapuccino yang berada di Café Cangkir lantai satu. Menurutnya, agar nuansa kafe berbeda, ia membuka kafe ini dan membuatnya dengan model menu lain.

Makanan dan minuman Café Bento ini, terdiri dari produk kafe pada umumnya, hanya saja makanan ini lebih dominan kepada masakan Jepang, seperti Beef Teriyak, Okkado, Tori No Teba, Egg Chicken Roll dan minuman yang tak kalah segarnya Green Tea, Kafe Latte, Jasmine, Cappucino Cincau.

Pengelola Café Bento ini menjelaskan, selain mengutamakan cita rasa Jepang, Café Bento yang berdiri 11 Juni ini, mengunggulkan kenyamanan tempat dengan memberikan ruangan AC dan are wi-fi serta memberikan pelayanan yang memuaskan.

Café Bento dikemas dengan fasilitas yang memadai, juga penyajian yang sederhana menyesuaikan dengan harga standar di kalangan Mahasiswa. Mulai dari Rp9000-Rp25.000, juga ditemani dengan minuman yang memiliki harga Rp1000–Rp12.000.

Untuk menyiapkan lokasi, Asmi bekerja sama dengan Darma Wanita UIN Jakarta. Asmi bersama rekannya, mengisi Café Javapuccino dengan peralatan dari mereka sendiri, sedangkan tempat, disediakan dari pihak UIN. Untuk produk makanannya pun, jika ada yang mau suplai dirinya tidak masalah, karena ia baru menginformasikan untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Tergerak dari masakan khas Jepang ini, pengunjung yang berdatangan lebih banyak dari kalangan mahasiswa, terutama pada jam istirahat. Sedangkan dari pihak dosen, mereka pun sering berkunjung, hanya saja kedatangannya ke Café Bento ketika ada acara rapat.

Pengunjung Café Bento, Isti Februari, Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, Jurusan Sastra Inggris merasa bangga terhadap UIN Jakarta, karena mempunyai kafe yang bagus. “Meski harganya kadang nggak sesuai dengan rasanya, kalo bisa harga disesuaikan dengan mutunya” ungkap mahasiswa sembari melahap makanannya, Selasa (19/6). (Abdurrohim Al Ayubi)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Manuskrip University - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger